Gengsi dan pengakuan, dua kata yang bisa memberikan energi positif dan dapat pula memberikan energi yang berefek negatif, semua tergantung dari niat masing-masing individu. Gengsi untuk melakukan hal hal yang bermanfaat kiranya sangat bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri namun juga bagi lingkungan di sekitar kita, dan pengakuan adalah hal yang mengkituti dari hasil yang telah dilakukan sebelumnya, namun apa arti dari pengakuan kalau hanya untuk memperlihatkan superioritas, mungkinkah dia lupa bahwa diatas langit masih ada langit, ini  tak ubahnya seperti riya’ yang merupakan penyakit hati.

Pengakuan yang menuju riya merupakan penyakit yang dapat menggerogoti setiap manusia, dan dapat membuat langkah yang diambil menjadi membabi buta yang terkadang dapat menjadi bumerang bagi kita sendiri, bisa membuat jiwa tertekan. Perubahan jiwa yang bukan seharusnya ia tampilkan kadang tak mampu dilawan hanya karena ketidakberdayaan akan keadaan, meski sudah sekuat tenaga untuk berlaku seperti biasa seperti hal yang susah untuk diperagakan. Apalagi sebelumnya meninggalkan sesuatu yang menurut dia merupakan jalan menuju idealisme yang dia susun sebelumnya, meski sebenarnya sudah dipasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa.

Tertekan, penyesalan, perasaan bersalah, dan susah beradaptasi di lingkungan baru yang sebenarnya itu kesalahan diri sendiri, terkadang membuat dada sesak yang berujung pada pemikiran-pemikiran yang sepertinya terkesan masif, tetapi itulah kenyataannya, kadang muncul ide yang sangat optimis dan konstruktif, namun tak jarang pula berujung pada ide pelarian diri, sehingga bisa saja muncul kata-kata pengecut dan kalah diawal perjuangan baru untuk memulai perjuangan lainnya menuju idealisme. Namun, dalam kondisi seperti ini, hati kadang mulai bicara, uang, gengsi , dan pengakuan mungkin sudah tidak terlalu menjadi prioritas, namun keyakinan meraih idealisme yang menjadi harapannya meski dia juga belum tahu harus memulainya kembali.

Namun yang perlu dipertahankan adalah rasa syukur dan kepasrahan kepada yang memberi kita hidup, agar tetap dapat memaknai segala kejadian, dan apa yang akan terjadi di masa depan adalah misteri illahi, namun semoga kita tetap dapat berusaha memperjuangkan cita-cita dan belajar dari kesalahan di masa lalu, semoga coretan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amien Ya Robal Alamin.

sumber gambar dari : http://3.bp.blogspot.com/_ThP9akaQ4R4/SoYhpiEAWoI/AAAAAAAAARM/qLs1a_Qfdx4/s1600-h/syukur.JPG

ambisi,,
mungkin satu kata yang selalu hinggap di dalam dada manusia,,
mungkin satu kata yang selalu menjadi privasi setiap orang,,
mungkin satu kata yang selalu berbeda setiap insan,,

banyak jejak dan langkah telah terlewati,,
datang dan pergi selalu saja menghampiri,,
entah sampai kapan hati akan merasa puas,,
hanya demi mewujudkan ambisi demi ambisi,,

letih, sedih, duka, tak menyurutkan langkah,,
kadang tak peduli akan rintangan,,
yang tergesa-gesa datang mendahului langkah,,
waktu, harta, dan tenaga kadang harus dibayarkan,,

ketika ambisi sudah mencapai ujung dan ubun-ubun,,
dimulai kembali untuk menuju ujung berikutnya,,
terbayar dengan satu kata dalam hati “puas”,,

puas,,
satu kata yang mahal harganya,,
puas,,
satu kata yang berarti emosi dan etika,,
puas,,
satu kata yang berarti pengorbanan,,
puas,,
satu kata yang meminta konsekuensi,,
puas,,
satu kata yang terkadang melukai orang lain,,
puas,,
satu kata yang berarti rahasia,,

semoga ambisi demi kepuasan tetap selalu dalam ridho allah swt,,
dan dapat memberikan manfaat kepada orang-orang yang menyayangi kita semua,,
amien,

tiap orang pasti mempunyai sebuah keinginan entah apa itu disebut, idealisme masing-masing individu tentunya mempunyai latar belakang yang berbeda, bisa karena pengalaman hidup yang pernah dialami, faktor lingkungan dimana dia tinggal,  faktor ekonomi, sosial budaya, dan beragam faktor yang membuat idealisme tertanam dalam benak tiap orang.

Ditengah-tengah ketidakberdayaan dan kemapuan yang ada, tetaplah tersirat optimisme dalam hati, membuat rangkakan berubah menjadi sebuah perjalanan yang melewatkan tiap-tiap tempat yang penuh dengan kenangan. Optimisme yang terjunjung ke angkasa kadang membuat asa makin manis terasa, namun itu tetaplah asa yang harus dijemput

Perpaduan idealisme dan optimisme memunculkan niat dalam palung hati terdalam sampai lapisan kulit epidermis, perpaduan ini membuat kita bisa tertuntun ke jalan yang tidak pernah terduga sebelumnya. Terkadang susah untuk memaafkan apa yang telah terlalui dalam hidup, saat kata yang seharusnya tertawan di dada terlanjur tumpah ke bumi, saat laku yang mesti terpasung terlanjur terkulai dimakan waktu. Sadar atau tidak atas apa yang terlalui, terkadang membuat kekerdilan muncul dalam optimisme yang sedang menganga di dalam batin.

Setiap waktu yang bergulir meninggalkan kisah kepada setiap orang, saat bahagia terkadang tidak ingat saat kemirisan pernah ia alami, membuat ketidakpercayaan mulai muncul ke relung kalbunya, meski disaat ini pula idealism dan optimisme tetaplah tertanam kuat dalam benak. Keadaan sekitar yang mendukung ketidakpercayaan diri semakin menjauhkannya ke dalam dunia lain yang tidak ia ingin selami.

Bola kemunafikan perlahan mulai menggelinding ke urat-urat nadi, pelan namun pasti membuatnya makin gerah meski tetap bertahan dalam kemirisan. Niat tulus untuk membahagiakan orang-orang terkasih yang telah membesarkannya sejak dia dalam rahim ibunya , membuat dia lebih memilih untuk bertahan di jalan itu, dan dia sangat yakin jalan itupun bisa mempertemukan jalan yang ia telah rangkai dalam kisah sebelumnya.

Berpegangan dengan sebutan ketulusan membuat dia menyadari akan hasil semanis madu dari dunia yang awalnya dia sebut kemunafikan , dia semakin bersyukur atas apa yang ia alami selama ini, proses kemunafikan dalam ketulusan membuatnya terus yakin untuk jalan yang ia sering sebut-sebut dalam idealismenya dan optimismenya

Tulisan ini hanya sebatas coretan dari penulis tanpa bermaksud apa-apa,, semoga bagi yang pernah mengalaminya bisa semakin bersyukur atas apa yang ia alami,,amien,,

Foto diambil dari http://1.bp.blogspot.com/_QCYkqo5yxlI/SICRg8Nb_nI/AAAAAAAAAA0/T5tGGxcCN2w/s320/lampu.jpg

“Karena kereta api bisa menjadi wahana pembelajaran budaya, melalui kerta api, suatu bangsa dapa belajar disiplin, mumpuni dalamteknologi, sadar akan keselamatan dan cakap dalam manajemen usaha, meskipun tiket mahaltapi mampu mengahdirkan layanan yang berkualitas:handal dan nyaman” (harian KOMPAS)

Liburan lebaran 2008 kemaren sih cukup menyenangkan juga,, setelah cukup di rumah aku pun segera balik ke bandung lagi tanggal6oktober 2008,, namun rutenya sih: blitar-malang-banyuwangi-lamongan-surabaya-yogyakarta-bandung

dari blitar sih senin tgl6 okt dari stasiun blitar,, ya namanya musim lebaran ya kereta api penuh sesak dengan orang, apalagi kereta ekonomi yang akan membawaku ke stasiun malang kota,, kereta terlambat sekitar 1jam, sekitar jam10.30 kereta berangkat ddr stasiun blitar,, udah masuk ke dalam kertanya susah, didalampun juga susah, aku kebetulan masuk ke gerbong barang, waw, isinya tapi bukan barang tetapi penuh dengan orang,, aku terpaksa harus berdiri di depan pintu gerbong barang yang cukup luas, pegangan orang di depanku, seandainya orang didepanku yang aku pegangi jatuh, aku bisa saja jatuh, karena tangan satuku cuma pegangan pinggiran pintu kereta, tapi alhamdullilah perjalanan cukup lancar,, ya namanya blitar-malang cuma 4500 rupiah saja, mana mungkin minta fasilitas bagus,, di bandung aja 6000 cuma 2x naek angkot dayeuhkolot-kordon + kordon-buahbatu, he,, sesampai di malang aku pun segera beli tiket malang-banyuwangi, karena adanya cuma ekonomi ya belinya yang ekonomi, nama keretanya “tawang-alun”, cuma 20ribu rupiah, nurah banget kan,, eh namanya juga jodoh kali ya,, alhamdullilah aku bertemu dengan temenku sekelas sma yang akan pergi ke bali mau naek kereta “tawang alun” juga, Si Nanda Ndoweh, Eko Yuda, dan PAtkai, perjalanannya lama banget ternyata, berangkat jam 14.00 dr malang nyampe stasiun kalibaru banyuwangi jam 21.00,, trus nyambung naek bus ke arah Genteng dan terminal deket rumahe temenku masih 1jam, deket disini ternyata juga 1jam, so aku nyampe rumah temenku sekitar pulul 23.00, temenku ini bernama irawan, tapi biasanya dipanggil packdhe, temen sekosku waktu bimbel di malang sebelum SPMB2006, rumahe temenku ini di daerah Sanggar,sekitar 2jam dari kota BAnyuwangi, hoho,, (more…)

GELADI adalah salah satu mata kuliah wajib yang ada di IT Telkom yaitu semacam kerja praktek di akhir semester4 di kantor telkom lamanya sekitar 6minggu biasanya dilaksanakan pada liburan semester4.

Kandatel Yogyakarta tepatnya kumemulai rangkaian cerita panjang tentang sebutan “PEMBAWA SIAL”….Entah berantah asal sebutan itu diberikan pada diriku yang sebenarnya aku merasa “SELALU BERUNTUNG”..d dkt pintu masuk keraton jogja

Awal cerita yang mengesankan ketika aku ditempatkan di Unit Akses Operasi (Telkom Pugeran, selatan kraton) tepatnya di Jl. MT Haryono 21… Bersama Sandhi, Adi, Ardhi, Hardin, Yusuf, Neiz, dan Prima. Betapa bahagianya diriku setelah tahu bahwa aku ditempatkan masih di sekitar kota jogja, karena aku tak perlu repot2 keluar kota jogja,,

Hari pertama setelah penempatan(tepatnya Selasa, 8 Juli 2008)

Aku datang pukul 10.00 sesuai waktu yang dijanjikan oleh sang pembimbing, hari itu cukup santai dan menarik karena cuma diajarin pasang pasang speedy.. jam 16.30 kami sudah diiznkan pulang.

Hari kedua(Rabu)

Kami kedatangan satu teman uang sangat pendiam awalnya,dan ternyata ributnya seabrek2,namanya Pipit asal klaten,anak IF satu2nya,,kami ber9 di tugasin masang speedy k pelanggan bermodalkan PETA JOGJA ajah. (more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.