tiap orang pasti mempunyai sebuah keinginan entah apa itu disebut, idealisme masing-masing individu tentunya mempunyai latar belakang yang berbeda, bisa karena pengalaman hidup yang pernah dialami, faktor lingkungan dimana dia tinggal, faktor ekonomi, sosial budaya, dan beragam faktor yang membuat idealisme tertanam dalam benak tiap orang.
Ditengah-tengah ketidakberdayaan dan kemapuan yang ada, tetaplah tersirat optimisme dalam hati, membuat rangkakan berubah menjadi sebuah perjalanan yang melewatkan tiap-tiap tempat yang penuh dengan kenangan. Optimisme yang terjunjung ke angkasa kadang membuat asa makin manis terasa, namun itu tetaplah asa yang harus dijemput
Perpaduan idealisme dan optimisme memunculkan niat dalam palung hati terdalam sampai lapisan kulit epidermis, perpaduan ini membuat kita bisa tertuntun ke jalan yang tidak pernah terduga sebelumnya. Terkadang susah untuk memaafkan apa yang telah terlalui dalam hidup, saat kata yang seharusnya tertawan di dada terlanjur tumpah ke bumi, saat laku yang mesti terpasung terlanjur terkulai dimakan waktu. Sadar atau tidak atas apa yang terlalui, terkadang membuat kekerdilan muncul dalam optimisme yang sedang menganga di dalam batin.
Setiap waktu yang bergulir meninggalkan kisah kepada setiap orang, saat bahagia terkadang tidak ingat saat kemirisan pernah ia alami, membuat ketidakpercayaan mulai muncul ke relung kalbunya, meski disaat ini pula idealism dan optimisme tetaplah tertanam kuat dalam benak. Keadaan sekitar yang mendukung ketidakpercayaan diri semakin menjauhkannya ke dalam dunia lain yang tidak ia ingin selami.
Bola kemunafikan perlahan mulai menggelinding ke urat-urat nadi, pelan namun pasti membuatnya makin gerah meski tetap bertahan dalam kemirisan. Niat tulus untuk membahagiakan orang-orang terkasih yang telah membesarkannya sejak dia dalam rahim ibunya , membuat dia lebih memilih untuk bertahan di jalan itu, dan dia sangat yakin jalan itupun bisa mempertemukan jalan yang ia telah rangkai dalam kisah sebelumnya.
Berpegangan dengan sebutan ketulusan membuat dia menyadari akan hasil semanis madu dari dunia yang awalnya dia sebut kemunafikan , dia semakin bersyukur atas apa yang ia alami selama ini, proses kemunafikan dalam ketulusan membuatnya terus yakin untuk jalan yang ia sering sebut-sebut dalam idealismenya dan optimismenya
Tulisan ini hanya sebatas coretan dari penulis tanpa bermaksud apa-apa,, semoga bagi yang pernah mengalaminya bisa semakin bersyukur atas apa yang ia alami,,amien,,
Foto diambil dari http://1.bp.blogspot.com/_QCYkqo5yxlI/SICRg8Nb_nI/AAAAAAAAAA0/T5tGGxcCN2w/s320/lampu.jpg
December 16, 2009 at 3:41 pm
Ok boz. sante wae.. asal ditempatkan ditempat yang tepat… Ora sok2an.. *fast reading*
December 16, 2009 at 3:54 pm
wkwkwk,, oke om,,thank youlah kalo begitu
December 16, 2009 at 4:43 pm
prikitiwww
December 16, 2009 at 4:56 pm
nuwun prikitiw-nya,,wkwkwk
December 16, 2009 at 6:27 pm
hmmm,,,bingung sat mocone,,hahahhahha
terlalu banayk yagn disembunyikan,,
to the point ae,,
hahahha
December 17, 2009 at 12:32 am
semoga apa yang telah terjadi itu terdapat hikmah yang tak ternilai harganya.. moga kita bisa mengambil hikmah dari semua itu. Dan kita menjadi orang yang lebih baik
December 17, 2009 at 5:58 am
@arief packdhe: hahahahha,, mbuh aku gaco nulis,, jarang2 iso nulis ngene iki,,wkwkkw,,
@ms chit: yup, bener banget itu mas,,
nuwun comment-e,,:)
December 19, 2009 at 12:46 am
berat bahasanya,, gk ngerti gw.. hohohoho..
December 19, 2009 at 1:31 am
@mona: hehe,, gatau juga ni,, nulisnya kemaren ngasal,, ngikut aja ni tangan, maklum lagi pusing kemaren,,he,, thank you commentnya,